Minggu, 20 Agustus 2017

"Fight or Flight?"


Menyerang atau menghindar dari perundungan adalah sebuah keterampilan yang dipelajari. Bekal utama adalah penghargaan yang proporsional kepada si anak dari seluruh anggota keluarga. Anak didengarkan pendapatnya, walaupun tidak semuanya disetujui. Anak diberi waktu memperbaiki dirinya, dan diberi penghargaan atas usahanya memperbaiki diri.





Anak saya sejak awal usia sekolah sampai umur 12 tahun sekolah di rumah. Dengan kondisi rumah yang serbanyaman dan ideal sesuai keinginan kami, anak saya nyaris tidak pernah berhadapan dengan perundungan. Walau demikian, sering terjadi selisih paham dengan adik-adiknya. Beberapa orang bertanya, apakah anak saya yang demikian 'steril' mampu menghadapi kondisi dunia yang teramat kejam? Saya sempat khawatir juga, apalagi ia menginginkan sekolah di pesantren, yang akan hidup 24 jam bersama anak-anak dari latar keluarga yang berbeda.

Tibalah Si Sulung masuk pondok. Sepekan pertama ia bercerita ada temannya yang punya kebiasaan memerintah, ia menyatakan tidak suka. Ia mengaku sudah bisa mengatasinya, walau sempat membuatnya sangat jengkel.

Pekan ke dua ada anak yang mengirimkan surat kaleng. Walaupun belum sampai ada ancaman, sudah ada anak lain yang menjadi korban. Bahkan sudah ada anak yang keluar dari pesantrennya tersebut karena tidak tahan menghadapi perundungan. Ia hanya bilang lain kali akan menyimpan semua barang bukti dan melaporkan ke ustadzahnya. Sekarang, memasuki bulan ke dua, kondisinya sudah lebih stabil.

Ia memilih 'fight' kepada temannya yang suka memerintah, karena ia tahu, seseorang tidak bisa dipaksa untuk melakukan sesuatu yang bukan darurat. Ia pun saat di rumah sering saya tegur apabila tidak menggunakan kata 'tolong' atau sering memerintah adiknya untuk sesuatu yang tidak darurat.
Ia memilih 'flight' menghadapi si pengirim surat kaleng, sambil menyusun strategi, karena bukti-bukti belum ia pegang. Mekanisme 'fight or flight' ini merupakan hasil dari pengukurannya terhadap kemampuan dirinya. Di satu sisi, ia diajarkan untuk menghargai orang lain. Di sisi lain, orang lain tidak berhak menyakitinya.

Mengukur kemampuannya melawan atau menghindar dimulai dari kebiasaan-kebiasaan di dalam rumah. Dimulai saat batita, ketika ia mempelajari beberapa macam emosi dirinya. Ia tau apa rasanya sedih, jengkel, senang, dan lainnya. Ia diajarkan mengungkapkan emosinya dengan komunikasi yang asertif, ia diajarkan cara mencari solusi dari perasaannya.

Kemudian dilanjutkan saat usia ego nya (saat balita sedang sering berkata 'tidak'). Dia mulai mengekspresikan keberadaan dirinya, dia mulai ingin pengakuan dari sekitarnya. Wujudnya, seringkali ia melakukan sesuatu yang dilarang, lebih sering berkata 'tidak'. Bersabar adalah kunci dari pengasuhan. Anak di usia ego sedang mengasah kemampuannya mempertahankan diri. Tidak masalah jika ia belum bisa berbagi mainan, belum mau salaman, atau bertemu orang baru. Hargai dulu keberadaannya.

Anak sulung saya dulu termasuk yang sangat sulit bertemu dengan orang baru. Ia susah untuk diajak bertamu, apalagi bersalaman. Keluarga saya, terutama kedua orang tua, sampai sangat khawatir anak saya akan sulit bergaul, apalagi jika tidak disekolahkan. Alhamdulillaah, karena keyakinan akan taufiq dari Allah, si sulung bukan lagi seorang gadis kecil pemalu-penakut. Kini dia penuh inisiatif. Pekan lalu ia bercerita, mencalonkan diri menjadi ketua kelas, namun perolehan suaranya ada di urutan ke empat, sehingga ia harus menerima menjadi bendahara.

Sabar dan yakinlah kepada Allah. Semua hal yang kita alami sekarang, adalah proses menuju titik akhir yang kita tidak tau kapan waktunya. Doa adalah kekuatan utama kita, semoga Allah azza wa jalla mengaruniakan kesabaran kepada kita.
@ummujita
Disalin dari status facebook
10 Agustus 2017

2 komentar:

  1. Assalamualaikum Ibu,
    Semoga Allah mudahkan proses mendidik anak-anak kita meskipun bukan dalam wadah "sekolah".
    Please keep posting agar blog ini selalu hidup dan saya bukanlah seorang yang terlambat memetik pelajaran dari apa yang telah anda jalani ber-homeschooling Islami bagi anak-anak anda.
    Wadah kubangan lumpur. Itulah fenomena "sekolah" di zaman ini.
    Wassalamualaikum.

    BalasHapus
    Balasan
    1. waálaikumussalaam. Terima kasih dukungannya, semoga demikian juga dengan Anda. Sekolah taupun HS, adalah upaya yang dipilih seorang ayah/ibu dalam usaha memenuhi hak dasar anak-anak mereka. Yang penting tetap berada dalam jalan Allah subhaanahu wataála.

      Hapus