Jumat, 09 Juni 2017

Visual, Kinestetik, Auditori


Dalam beberapa tulisan, sering saya katakan bahwa anak pertama saya memiliki kecenderungan menyukai keteraturan, sistem dan sebagainya. Ia lebih suka belajar langsung dari membaca buku. Ia juga senang menuliskan kembali dalam buku tulis. Saat pertama mengenal huruf, ia dengan cepat mengingatnya. Saat itu saya sengaja menempelkan berbagai poster huruf dan angka. Belajar membacanya pun dengan sistem 'drill' dan ia menikmai cara tersebut.





Beralih dari anak pertama yang cukup 'mudah' terbaca cara belajarnya, saya cukup kewalahan menghadapi cara belajar anak ke dua. Kemudian saya ingat-ingat kembali kebiasaan-kebiasaannya sejak kecil. Ia bisa berjalan si usia 10 bulan, memanjat teralis di usia 11 bulan, terampil memegang gunting di usia kurang dari 2 tahun, lebih banyak bergerak dibanding diam, dan lain sebagainya. Ternyata anak ini lebih efektif belajar dengan cara diberi tantangan, arahan sedikit saja di awal. Saat mulai belajar membaca di usia 6 tahun, saya contohkan kepadanya bunyi suku kata yang dihasilkan dari huruf-huruf.
Ia pun meneruskannnya dengan bunyi dari suku kata lain. Sambil mulai mencoba menulis mengikuti huruf-huruf yang ada di buku. Ia menulis huruf-huruf apapun tak berbentuk kata. Saya pun sadar anak ke dua ini tidak bisa di 'drill', ia lebih suka mencoba segala sesuatunya sendiri. Enam bulan kemudian dia sudah lancar membaca dan menulis.
Berkaca dari anak pertama dan ke dua, saya pun bersiap diri menghadapi gaya belajar anak ke tiga. Saya cobakan drill tidak berhasil, dengan tantangan pun tidak bertahan lama. Sampai usia 7 tahun ia belum lancar membaca. Lalu saya pun beralih untuk mengejar belajar membaca Al Quran dan hafalan dulu. Maasyaa allah, berbeda sekali dengan belajar huruf latin, ia terlihat lebih cepat belajar huruf arab. Cara menghafalnya lebih efektif dengan mendengarkan langsung dari qori' yang diputar berulang-ulang. Berbeda dari kedua kakaknya yang lebih cepat lewat talqin.
Dulu saya cuek saja dengan pemilihan gaya belajar anak-anak. Ternyata mengenali gaya belajar anak-anak banyak membantu menemani mereka dalam kegiatan sehari-hari. Begitu banyak cara belajar di dunia ini, tak mungkin semuanya kita terapkan. Pilihan yang paling efektif adalah yang sesuai dengan kebiasaan, minat, dan kepribadian anak-anak.
Gaya belajar ini hanya pendekatan. Pada dasarnya, anak-anak tetap harus mendapatkan stimulasi yang baik untuk indera dan alat geraknya. Seiring usia insyaa allah aspek-aspek lain dalam dirinya akan berkembang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar