Senin, 24 April 2017

Hikmah di balik Galaunya Menjalankan Home Schooling

Selama menjalankan home schooling (hs), telah beberapa kali saya memasuki fase ragu dan kurang percaya diri. Kekhawatiran utama adalah terhadap kemampuan diri sendiri. Kekhawatiran yang cukup besar lainnya yaitu tentang kemampuan anak dalam bersaing dan bertahan di kehidupan sesungguhnya.





Dulu saya berpikir bahwa anak-anak haruslah diajarkan bersaing sebanyak mungkin dengan cara mengikuti berbagai kompetisi. Saya juga sempat berpikir anak-anak harus bergaul dengan sebanyak-banyaknya orang agar mereka bisa bertahan dan tahan tempaan. Soal kecerdasan, saya sempat berpikir kecerdasan anak dilihat dari nilai rapot dan rankingnya. Pikiran-pikiran seperti ini muncul karena pola pikir lama yang terbentuk sebagai hasil proses pendidikan yang dulu saya jalani.

Setelah kami jalani, keberhasilan hs ternyata tidak bisa dalam satu semester, atau satu caturwulan, atau pun setahun. Kegagalan demi kegahalan merupakan pelajaran penting yang sangat berharga. Saya sempat khawatir saat anak pertama begitu sulit bergaul dengan orang baru, saat anak ke dua ogah-ogahan belajar membaca, saat anak ke tiga belum lancar berbicara.

Kecerdasan, ketangguhan dan persaingan yang dulu saya khawatirkan ternyata tidak beralasan. Anak-anak lebih berhak mendapatkan kasih sayang terlebih dahulu. Kemudian pengertian, pengenalan terhadap dirinya, dan kesempatan untuk maju, berubah, memilih, menolak. Keseluruhan proses yang terfokus pada si anak, dengan izin Allah ta'ala, akhirnya menghasilkan kepercayaan diri. Kepercayaan diri memupuk kecerdasan, inisiatif, kreativitas dan keberanian. Setidaknya itu yang terjadi kepada anak-anak saya.

Kesabaran, kata kuncinya. Proses belajar harus terus berjalan. Walaupun lebih lambat dari anak seusianya, walaupun harus terus mengulang. Proses itulah yang amat berharga. Ketika si sulung menangis kencang saat merasa tidak mengerti soal-soal persiapan UAN, kesabaran dan kegigihan menjadi materi utama. Saat anak ke tiga belum juga bisa menulis dan membaca, perlu dikaji ulang stimulasinya sejak awal.

Proses itu masih berjalan hingga kini. Dulu, kakak dan adik ini sering berselisih paham tentang mainan, pakaian, buku, kasur, dan lain-lain. Kini sang kakak bisa memilihkan buku sesuai selera adiknya, dan sang adik bisa membelikan  oleh-oleh yang diinginkan kakaknya, tanpa bertanya satu sama lain. Proses saling memahami ini mungkin belum sampai ke ujungnya, namun prosesnya begitu dramatis. Penuh romantika yang akan terus mereka kenang.

Pilihan untuk menjalankan hs menjadikan saya dan suami orang yang tidak statis. Ada saja hal baru yang menantang, yang mau tidak mau harus kami pelajari. Saya yang gagap teknologi, akhirnya harus bersahabat dengan teknologi. Suami saya yang cenderung kaku, luluh oleh kebutuhan mengkoreksi bacaan/hafalan anak-anak dan bercerita. Kami sering tertawa bila mengingat semua perubahan ini. Alhamdulillaah, semua atas kehendak Allah saja.

4 komentar:

  1. senang baca artikel ini..... membuat saya semakin semangat untuk menjalankan HS dengan anak-anak.... ^_^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih telah berkunjung ;)

      Hapus
  2. ada artikel bagaimana menyusun kegiatan harian dengan varian usia anak yg berbeda beda? boleh sharing mba...?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya ada contohnya, semoga bisa segera saya munculkan di blog ini.

      Hapus