Minggu, 22 Januari 2017

Mitos Seputar Homeschooling dan Faktanya


Sejak memutuskan akan menjalankan homeschooling (HS), saya telah banyak mendengar berbagai macam mitos seputar HS. Kala itu beberapa mitos cukup mempengaruhi keputusan saya, saya sempat ragu menjalankan HS di tengah jalan. Seiring berjalannya waktu, mitos lain pun saya dengar. Alhamdulillaah karena izin Allah, lalu dengan dorongan semangat dari para pelaku HS lain, saya masih menjalankan HS sampai saat ini.

Setelah kurang lebih 9 tahun menjalankan HS, akhirnya saya menemukan fakta di balik mitos-mitos tersebut. Keadaan yang saya alami ini mungkin tidak sama seperti yang dialami pesekolah rumah lain, tetapi gambarannya mungkin kurang lebih sama. (Salim dulu sama pesekolah rumah lain )







Mitos I : Orangtua bukan guru/ustadz, orangtua bukan orang yang sempurna
fakta: Orang tua (terutama ibu) adalah tempat belajar pertama bagi anak-anak. Siap atau tidak, anak-anak akan bertanya banyak hal kepada kita. Sejak kemunculan pertamanya di dunia, kita telah menjadi 'guru 'mereka. Belajar tengkurap, merangkak, berjalan, bicara, mengenal nama-nama benda, dan sebagainya. Orang tua pula yang mengenalkan hal-hal baik dan mengingatkan menjauhi hal-hal buruk. Mereka belajar berkata-kata yang baik, besikap yang baik. Kita memang bukanlah 'guru' yang terbaik, tetapi kita, sebagai orang tua jauh lebih tau banyak hal tentang anak-anak kita sendiri dibandingkan manusia manapun. Ingat pula bahwa menuntut ilmu dan berakhlak mulia wajib bagi muslim dan muslimah. Walaupun bukan guru, orang tua bisa mencari sumber belajar dengan mudah, lewat buku, internet, dan sebagainya.



Mitos II: Anak saya pemalu, nanti tambah pemalu kalau HS.
fakta: Sifat anak ditentukan dari karakter dasarnya, bukan karena ia hs/tidak. Ada anak HS yang pemalu, ada juga yang pemberani. Begitupun, ada anak sekolah yang pemalu, ada juga yang pemberani. Yang jelas, akan lebih membahagiakan apabila mereka bahagia menerima keadaan diri mereka masing-masing.


Mitos III: Bagaimana anak-anak bisa bersosialisasi kalau di rumah terus?
fakta: Agen sosialisasi pertama adalah keluarga. Penanaman semua nilai dasar kehidupan terjadi di keluarga. Anak dengan penanaman nilai yang kuat akan memiliki prinsip hidup yang tak mudah dipengaruhi. Faktanya, lewat manakah pornografi menyebar? Ujaran-ujaran buruk menular? Dalam Islam, kita diperintahkan untuk memilih teman yang baik, dalam HS ini sangat mungkin dilakukan. Dengan membentuk grup penyokong HS, bergabung di komunitas online, dan sebagainya, memungkinkan kita memilih teman-teman yang baik.


Alhamdulillaah kami pernah tinggal di berbagai tempat, termasuk di daerah minoritas. ANak-anak bergaul biasa saja secara wajar. Apakah yang dimaksud kurang bergaul karena punya sedikit teman? saya rasa banyak/sedikit teman bukan ukuran bisa/tidak bisa bergaul, tetapi sejauh mana anak-nak bisa menempatkan diri dan tetap teguh kepada prinsip. 

Anak pertama saya sedang menyiapkan diri mengikuti UAN, ia mengikuti kelas bimbingan belajar. Alhamdulillah mudah saja bergaul, dan bisa membatasi diri hanya bergaul dengan sesama perempuan. Kalau dikatakan anak HS kurang ngetrend, baru saya setuju, karena beberapa kali pertemuan di kelas bimbelnya, anak saya sulit mengerti mengapa hal-hal tertentu harus diketahui semua anak, padahal tidak semua anak menyukai hal tersebut.

Mitos IV: Anak-anak HS tidak bisa bersaing dengan anak yang bersekolah formal.
fakta: Dengan HS, anak-anak memiliki kesempatan menggali potensi dan minatnya. Belajar menjadi 'spesialis'. Anak-anak juga memiliki waktu lebih banyak untuk memahami sebuah konsep lewat praktik, percobaan, pengamatan, dsb tanpa terikat target waktu/agenda. Anak-anak HS belajar mengikuti keingintahuan mereka. motivasi belajar mereka adalah agar terpenuhi rasa ingin tahu tersebut. Sebab dorongan ini, tak heran seringkali anak-anak HS melakukan berbagai pengamatan, proyek, percobaan, prakarya, dan sebagainya.


Mitos V: Hidup tidak selamanya mulus, berjalan baik, bagaimana anak-anak HS akan bisa menghadapi kehidupan yang penuh dengan hal buruk, bila ia terus-menerus terkungkung di rumah tak menghadapi 'kehidupan nyata'?
fakta: dalam HS, anak-anak ditekankan untuk mandiri, memahami sebuah konsep lewat kehidupan sehari-hari. Anak-anak HS cenderung lebih banyak waktu membantu orang tua, misalnya sekedar menjaga adik, pergi ke warung, membereskan rumah, dsb. Ketahanan terhadap sebuah masalah diasah melalui pengalaman hidup sehari-hari, kehidupan yang berjalan alamiah. Anak-anak HS lebih banyak waktu melewati kehidupan yang alamiah tersebut.


Mitos VI: Anak HS tidak bisa belajar dengan baik dan serius.
Faktanya: Anak-anak HS menyiapkan jadwal mereka sendiri, menentukan proyek, kegiatan, dsb. HS memungkinkan anak-anak menemukan cara belajarbya sendiri-sendiri. HS bisa dikatan sebagai cara belajar ala butik, dimana satu produk hanya ada 1 unit, yang sudah diukur, disesuaikan dengan selera, sifat, cara, dan kepribadian sang anak.


Mitos VII: Anak HS tidak bisa mendapatkan ijazah dan melanjutkan kuliah.
Faktanya: Beberapa anak HS melanjutkan kuliah di kampus dalam dan luar negeri.



Homeschooling bukanlah paradoks dari "bersekolah" formal. HS adalah salah satu pilihan dalam cara belajar. Tidak bisa dipilih mana yang lebih baik dari yang lain. Silakan pilih dan jalankan pilihan Anda sebaik-baiknya. Nah, kalau Anda masih tidak percaya juga, saya tidak bisa memaksa, lebih baik Anda coba sendiri ;)

6 komentar:

  1. Bismillah... Masyaa Allah. Izin save n share ya um.. Jazakillaahu khaer wa barakallaahu fiik

    BalasHapus
    Balasan
    1. silakan, wa fiikum baarokallooh

      Hapus
  2. Saya ijin save Ilmunya ya ummu... Bermanfaat sekali

    BalasHapus
  3. Yang no.1 itu sering banget dengar (baca ding) deh Mba, mungkin maksudnya buar memotivasi tapi ternyata kurang tepat ya....

    BalasHapus
    Balasan
    1. bisa juga sih jd motivasi, hmmmm

      Hapus