Rabu, 12 Oktober 2016

Perlahan, Bu, Ïa Ingin Menikmatinya

Menghadapi anak yang terlihat 'sulit' mengerti dan memahami pelajaran sungguh sebuah ujian. Berbeda dari kedua kakaknya, anak ke tiga terlihat kesulitan memahami logika berbahasa. Ia sulit memahami sebuah huruf bisa berbunyi menjadi suku kata, kemudian terangkai menjadi kata.



Alhamdulillaah, ia bukanlah anak yang gampang menyerah, tekadnya besar untuk bisa membaca, dan demi sebuah hadiah (walaupun akhirnya ia urungkan keinginannya itu). Kenyataannya, beberapa anak memang memiliki hambatan di bidang tertentu. Salah satu kekurangan anak pertama saya adalah logika angka, anak kedua justru kuat di angka namun lemah dalam bahasa. Sekarang saya menghadapi anak ke tiga yang memiliki kendala dalam.logika bahasa. 

Ternyata kuncinya adalah pembiasaan dan pengulangan. Biarlah ia hanya bertahan 10 menit dengan kemajuan sangat sedikit. Tetapi kemampuan pemahamannya berkembang setiap hari. Tak semua anak cepat dalam belajar. Anak ini tipe pemikir, yang ia harus tahu mengapa sebuah huruf bisa berbunyi, lalu menjadi sebuah kata dan bahasa.

Mengenali kekuatan anak juga bisa menjadi kunci. Anak pertama saya senang bicara sejak bayi. Mulai usia dua bulan dia 'bubling' dan berirama seperti berbicara. Cara belajarnya lebih banyak dengan bercerita. Anak ke dua anak yang aktif secara fisik, cara belajarnya harus banyak praktek. Anak ke tiga tipe pemikir, suka mencari makna di balik sesuatu. Maka metodenya juga lebih banyak memancing ia untuk berpikir.

Dari mana saya mengetahui tipe ketiga anak saya? Dari interaksi yang saya lakukan semenjak mereka bayi. Melalui semua aktivitas yang kami lakukan bersama, terlihat kecenderungan anak-anak terhadap sesuatu. Itulah salah satu pentingnya waktu yang cukup serta aktivitas beragam bagi anak-anak. Sampai akhirnya satu per satu anak menjadi pembelajar mandiri, dan peran saya berganti menjadi teman belajar. Tinggallah anak ke tiga yang masih belum menemukan pola belajar yang 'pas' untuknya.

Di usianya 6,5th, tentu menjadi 'tak lazim' karena belum bisa membaca. Tetapi bagi kami, yang penting kami melalui proses ini dengan benar, baik dan menyenangkan. Tak bisa sipungkiri juga sebenarnya sempat agak khawatir, tetapi dengan taufiq dari Allah, kemudian melihat kesungguhannya, saya semakin tenang. Sedangkan Sang Ayah sampai kini tetap khawatir dan menanyakan dari seberang pulau sana

1 komentar:

  1. Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.

    BalasHapus